TIDAK perlu memendam rasa iri melihat sahabat yang tampak takterpisahkan dengan sang suami setelah menikah. Kini, lebih baik Anda cari tahu rahasia kebahagiaan pernikahan mereka.
Beruntung, sebanyak 17 wanita tak segan membeberkan rahasia tersebut, seperti disitat Cosmopolitan .
"Melakukan pekerjaan rumah berdua, seperti mencuci piring maupun mengajak jalan anjing peliharaan." —Christina
"Tidak menyimpan rahasia dan tidak tidur dalam keadaan marah."— Cassandra
"Suami menghabiskan waktunya lebih banyak di jalan. Maka setiap pagi sebelum berangkat bekerja, aku mengiriminya foto diri berpose sensual." — Alaina
"Selalu perhatian, dan berbagi tujuan hidup yang sama." — Emma
"Beritahu kekasih kapanpun Anda tengah memikirkannya." — Leah
"Bilang ‘I love you’ setiap ada kesempatan!" — Diana
"Selalu menyisihkan waktu untuk diri sendiri." —Lacey
"Sesi bercinta menakjubkan lebih sering!" — Sandra
"Selalu tertawa bersama. Itu kuncidari segalanya" — London
"Selalu jujur. Contoh, ‘Aku baru mengalami hari yang menyebalkandan ingin bermanjaan denganmu malam ini’ ketimbang ‘Oh, jadi malam ini kamu mau keluar dengan teman-teman lagi?” — Blair
"Beri suami sedikit kebebasan. Tidak perlu cemburu." —Heather
"Jangan marah terlalu lama. Saya dan suami sering bertengkar, tapiselalu berbaikan 10 menit setelahnya." — Kathy
"Menghargai hobi pasangan." — Casie
"Jangan dengarkan saran dari orang lain. Hubungan ini kalian yang menjalani.” — Stephanie
"3 K. Kompromi, komunikasi dan kemesraan. Kalau ada sesuatu yang salah, bisa jadi salah satunya tidak dilaksanakan." — Kim
"Tertawa, memasak, dan menonton siaran olahraga berdua." — Cierra
"Kuncinya ialah kencan malam berdua. Tak perlu makan malam diluar yang mahal. Tapi jalan-jalan ditaman atau makan malam romantis di rumah." — Emily
Tip info keluarga
Jumat, 09 Desember 2011
Mengapa si Kecil Suka Menjambak?
MENARIK rambut orang lain alias menjambak jelas bukan cara yangtepat bagi anak untuk berkomunikasi dan mendapatkan perhatian. Kiat berikut dapat menghentikan anak dari kebiasaan buruk tersebut.
Ada saja cara anak balita untuk menarik perhatian orang lain. Baikmelalui cara yang positif ataupun negatif. Menarik-narik rambut orang lain (menjambak), misalnya merupakan salah satu cara anak untuk menarik perhatian dan mengekspresikan dirinya. Melalui cara ini,anak juga mencoba untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan sekitar.
Mark W. Roberts, profesor psikologi klinis di Idaho State University, Amerika Serikat mengatakan ada tiga alasan utama untuk perilaku ini. Untuk balita muda (usia 12 hingga 18 bulan), penjelasan yang paling mungkin adalah salah satu yang paling sederhana yaitu dia telah menemukan cara untuk mendapatkan reaksi, dan mereka ingin merengkuhnya kembali.
“Ini seperti menekan tombol lampu, atau memukul salah satu mainannya dimana sesuatu akan muncul,” terangnya seperti dikutip babycenter.com . “Mereka menjambak dan kakaknya pun menjerit.Ini (buat dia) menyenangkan,” lanjut Roberts.
Alasan lain anak melakukan ini, kata dia, adalah untuk membuat suatu hal-hal buruk menyingkir.
“Misalnya, seseorang sedang merangkak untuk mengambil mainan dia, dia biasanya langsung mendekat dan menarik rambutnya. Dan ia pun tak akan mengambil mainan tersebut,” terang Roberts.
Sementara itu, untuk balita yang lebih tua (umur 2 sampai 3 tahun), umumnya dia sedang mengembangkan keterampilan kognitif untuk mencari-cari alasandan mungkin dengan menarik rambut dia mencoba untuk mengendalikan sebuah situasi. Roberts memberikan contoh seorang kakak yang tengah memegang potongan kue terakhir.Sang adik menjambak rambut kakaknya itu untuk mendapatkankuenya sehingga membuat sang kakak menangis.
“Ini terjadi bisa dalam dua tahap,”kata Roberts.
Pertama, Anda mungkin terlibat didalamnya sehingga kakaknya membagi kue. Lebih penting lagi adalah kemungkinan sang kakak akan berpikir dua kali sebelum membawa potongan kue terakhir dalam waktuwaktu berikutnya.
Lalu, bagaimana untuk mengatasi kebiasaan buruk ini? Pertama, Anda harus menunjukkan bahwa perilaku tersebut sia-sia. Salah satu kunci untuk mengatasi kebiasaan yang tidak pantas dilakukan oleh anak Anda adalah memperlihatkan secara meyakinkan bahwa perilaku tersebut tidak berpengaruh.
Jika Anda mengabaikan keinginannya saat dia menarik-narik rambut Anda, itu bagus. Karena dia akan belajar ke depannya bahwa dengan melancarkan kebiasaan buruknya itu tidak selalu akan mendapatkanapa yang dia inginkan.
Cara selanjutnya adalah dengan menekan perilaku tersebut. Bagi anak-anak berusia dibawah dua tahun, tidak ada bukti yang signifikan untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberi hukuman. Jadi, kiat terbaik adalah dengan memberinya teguran secara konsisten.
Tarik lembut tangannya saat menjambak dan ucapkan, “Tidak, tidak boleh menarik rambut. Menarik rambut bikin sakit”. Jika anak Anda telah berusia dua tahun atau lebih, biarkan dia tahubahwa dengan menjambak keinginannya tidak akan ditanggapi, dan dengan segera menerapkan apa yang Roberts sebut “hukuman kursi”.
Tetap di samping si kecil namun jangan berbicara dengannya, ataumengajaknya main keluar yang harus berlangsung selama satu menit. Ketika hukuman tersebut selesai, bicarakan situasi ini bersama. Seorang balita harus belajar dengan cara yang keras, dengan melakukan sesuatu yang berulang-ulang dan pembelajaran yang selalu membuat dia masuk ke dalam sebuah masalah.
Tugas Anda adalah konsisten dan jangan merasa frustrasi dengan terus mengulang peringatan yangsama dari hari ke hari. Ketika anak sudah lancar bicara, Anda dapat membantu model pemecahan masalah dengan berbicara secara langsung ketika dia masih mengulang kebiasaan tersebut.
Terakhir, jangan membalas perilaku anak. Jangan sampai Anda memutuskan untuk menarik rambutnya untuk mengajari bagaimana rasanya dijambak. Ini strategi kuno yang akan menjadi bumerang karena model perilaku seperti ini yang ingin Anda hentikan dari dia.
Balita Anda menarik rambut karena dia berusaha untuk mengubah sesuatu, misalnya untuk menghentikan adiknya mengambil mainannya. Jika Anda melakukan hal yang sama - menjambak untuk menghentikan dia dari kebiasaan menarik rambut – itu berarti Anda mengajari dia kalau menarik rambut adalah cara untuk mengubah perilaku seseorang.
Gagasan agar anak merasakan sakit untuk tidak menyebabkan rasa sakit kepada orang lain juga sama salah arahnya. Pada dasarnya karena balita belum memiliki keterampilan empati, sebuah kemampuan untuk membuat sebuah hubungan dengan sesama.
Ada saja cara anak balita untuk menarik perhatian orang lain. Baikmelalui cara yang positif ataupun negatif. Menarik-narik rambut orang lain (menjambak), misalnya merupakan salah satu cara anak untuk menarik perhatian dan mengekspresikan dirinya. Melalui cara ini,anak juga mencoba untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan sekitar.
Mark W. Roberts, profesor psikologi klinis di Idaho State University, Amerika Serikat mengatakan ada tiga alasan utama untuk perilaku ini. Untuk balita muda (usia 12 hingga 18 bulan), penjelasan yang paling mungkin adalah salah satu yang paling sederhana yaitu dia telah menemukan cara untuk mendapatkan reaksi, dan mereka ingin merengkuhnya kembali.
“Ini seperti menekan tombol lampu, atau memukul salah satu mainannya dimana sesuatu akan muncul,” terangnya seperti dikutip babycenter.com . “Mereka menjambak dan kakaknya pun menjerit.Ini (buat dia) menyenangkan,” lanjut Roberts.
Alasan lain anak melakukan ini, kata dia, adalah untuk membuat suatu hal-hal buruk menyingkir.
“Misalnya, seseorang sedang merangkak untuk mengambil mainan dia, dia biasanya langsung mendekat dan menarik rambutnya. Dan ia pun tak akan mengambil mainan tersebut,” terang Roberts.
Sementara itu, untuk balita yang lebih tua (umur 2 sampai 3 tahun), umumnya dia sedang mengembangkan keterampilan kognitif untuk mencari-cari alasandan mungkin dengan menarik rambut dia mencoba untuk mengendalikan sebuah situasi. Roberts memberikan contoh seorang kakak yang tengah memegang potongan kue terakhir.Sang adik menjambak rambut kakaknya itu untuk mendapatkankuenya sehingga membuat sang kakak menangis.
“Ini terjadi bisa dalam dua tahap,”kata Roberts.
Pertama, Anda mungkin terlibat didalamnya sehingga kakaknya membagi kue. Lebih penting lagi adalah kemungkinan sang kakak akan berpikir dua kali sebelum membawa potongan kue terakhir dalam waktuwaktu berikutnya.
Lalu, bagaimana untuk mengatasi kebiasaan buruk ini? Pertama, Anda harus menunjukkan bahwa perilaku tersebut sia-sia. Salah satu kunci untuk mengatasi kebiasaan yang tidak pantas dilakukan oleh anak Anda adalah memperlihatkan secara meyakinkan bahwa perilaku tersebut tidak berpengaruh.
Jika Anda mengabaikan keinginannya saat dia menarik-narik rambut Anda, itu bagus. Karena dia akan belajar ke depannya bahwa dengan melancarkan kebiasaan buruknya itu tidak selalu akan mendapatkanapa yang dia inginkan.
Cara selanjutnya adalah dengan menekan perilaku tersebut. Bagi anak-anak berusia dibawah dua tahun, tidak ada bukti yang signifikan untuk mengatasi hal ini adalah dengan memberi hukuman. Jadi, kiat terbaik adalah dengan memberinya teguran secara konsisten.
Tarik lembut tangannya saat menjambak dan ucapkan, “Tidak, tidak boleh menarik rambut. Menarik rambut bikin sakit”. Jika anak Anda telah berusia dua tahun atau lebih, biarkan dia tahubahwa dengan menjambak keinginannya tidak akan ditanggapi, dan dengan segera menerapkan apa yang Roberts sebut “hukuman kursi”.
Tetap di samping si kecil namun jangan berbicara dengannya, ataumengajaknya main keluar yang harus berlangsung selama satu menit. Ketika hukuman tersebut selesai, bicarakan situasi ini bersama. Seorang balita harus belajar dengan cara yang keras, dengan melakukan sesuatu yang berulang-ulang dan pembelajaran yang selalu membuat dia masuk ke dalam sebuah masalah.
Tugas Anda adalah konsisten dan jangan merasa frustrasi dengan terus mengulang peringatan yangsama dari hari ke hari. Ketika anak sudah lancar bicara, Anda dapat membantu model pemecahan masalah dengan berbicara secara langsung ketika dia masih mengulang kebiasaan tersebut.
Terakhir, jangan membalas perilaku anak. Jangan sampai Anda memutuskan untuk menarik rambutnya untuk mengajari bagaimana rasanya dijambak. Ini strategi kuno yang akan menjadi bumerang karena model perilaku seperti ini yang ingin Anda hentikan dari dia.
Balita Anda menarik rambut karena dia berusaha untuk mengubah sesuatu, misalnya untuk menghentikan adiknya mengambil mainannya. Jika Anda melakukan hal yang sama - menjambak untuk menghentikan dia dari kebiasaan menarik rambut – itu berarti Anda mengajari dia kalau menarik rambut adalah cara untuk mengubah perilaku seseorang.
Gagasan agar anak merasakan sakit untuk tidak menyebabkan rasa sakit kepada orang lain juga sama salah arahnya. Pada dasarnya karena balita belum memiliki keterampilan empati, sebuah kemampuan untuk membuat sebuah hubungan dengan sesama.
Rumus Bikin Pernikahan Bebas Serangan Masalah
MENYATUKAN dua pemikiran dalam satu ikatan pernikahan tidaklah mudah. Selalu saja ada banyak masalah yang mewarnai didalamnya. Namun dengan sikap memahami satu sama lain, permasalahan pun dapat ditengahi.
Sering kali percekcokan menjadi pewarna dalam rumah tangga. Jika dibiarkan menumpuk permasalahan pun meruncing menjadi serangan stres yang dapat mengganggu kesehatan dan merenggangkan hubungan. Biasanya urusan tersebut dikarenakan berbagai hal, di antaranya pasangan tidak saling menerapkan sikap toleran dan lebih sabar dengan pasangan sehingga sulit bagi pasangan untuk saling mendukung dan memecahkan masalah, seperti dikatakan Catherine Cohan PhD, seorang psikolog di Penn State University. Untuk itu, Catherine pun memberikan empat solusi agar pernikahan Anda terbebas dari masalah, seperti dirilis Womansday .
Berempati
Mungkin saja Anda merasakan stres atas deraan masalah yang menyerang secara bertubi-tubi. Tentu hal ini sangat tidak sehat bagi hubungan rumah tangga yang Anda bina. Untuk menyiasatinya, memberikan waktulebih untuk mendengarkan dirinyadan melakukan diskusi ringan dengan pasangan menjadi hal yang dapat ditempuh. Sebaiknya hindari seminim mungkin perdebatan dan cobalah untuk mengerti dirinya agar perbincangan dapat berjalan positif.
Tunjukkan padanya bahwa Anda benar-benar menyimaknya
Singkirkan sementara remote televisi, laptop, dan smartphone Anda. Sebagai penggantinya, simaklah dengan saksama ketika pasangan berbincang dengan Anda. Fokuslah pada dirinya dan mengulang kembali apa yang dikatakannya sehingga memungkinkan beberapa hal yangdapat diperjelas. Dengan melakukan hal ini akan membantu Anda berdua merasa dekat.
Menggunakan bahasa kolaboratif
Gunakanlah bahasa saya dan bukan Anda sebagai bentuk kedekatan dengan pasangan. Dengan memerbaiki kata panggil dan kalimat yang diutarakan sangat membantu meredakan Anda dan pasangan ketika menyelesaikan suatu masalah.
Selalu berkomunikasi dan menjaga keintiman
Komunikasi menjadi kunci penting bagi keharmonisan hubungan. Karenanya meski masalah sedang mendera, tak ada salahnya saling menautkan keintiman, misalnya dengan memeluknya atau memegang tangannya. Cara tersebut dapat meredakan stres dan membantu ikatan cinta tetap terjaga pendarnya. Jika tak sempat melakukan sentuhan fisik, mengirim pesan yang menunjukkan betapa perhatiannya Anda dan bagaimanaAnda selalu memikirkannya dapat menjadi peredam stres sekaligus meningkatkan keintiman Anda berdua.
Sering kali percekcokan menjadi pewarna dalam rumah tangga. Jika dibiarkan menumpuk permasalahan pun meruncing menjadi serangan stres yang dapat mengganggu kesehatan dan merenggangkan hubungan. Biasanya urusan tersebut dikarenakan berbagai hal, di antaranya pasangan tidak saling menerapkan sikap toleran dan lebih sabar dengan pasangan sehingga sulit bagi pasangan untuk saling mendukung dan memecahkan masalah, seperti dikatakan Catherine Cohan PhD, seorang psikolog di Penn State University. Untuk itu, Catherine pun memberikan empat solusi agar pernikahan Anda terbebas dari masalah, seperti dirilis Womansday .
Berempati
Mungkin saja Anda merasakan stres atas deraan masalah yang menyerang secara bertubi-tubi. Tentu hal ini sangat tidak sehat bagi hubungan rumah tangga yang Anda bina. Untuk menyiasatinya, memberikan waktulebih untuk mendengarkan dirinyadan melakukan diskusi ringan dengan pasangan menjadi hal yang dapat ditempuh. Sebaiknya hindari seminim mungkin perdebatan dan cobalah untuk mengerti dirinya agar perbincangan dapat berjalan positif.
Tunjukkan padanya bahwa Anda benar-benar menyimaknya
Singkirkan sementara remote televisi, laptop, dan smartphone Anda. Sebagai penggantinya, simaklah dengan saksama ketika pasangan berbincang dengan Anda. Fokuslah pada dirinya dan mengulang kembali apa yang dikatakannya sehingga memungkinkan beberapa hal yangdapat diperjelas. Dengan melakukan hal ini akan membantu Anda berdua merasa dekat.
Menggunakan bahasa kolaboratif
Gunakanlah bahasa saya dan bukan Anda sebagai bentuk kedekatan dengan pasangan. Dengan memerbaiki kata panggil dan kalimat yang diutarakan sangat membantu meredakan Anda dan pasangan ketika menyelesaikan suatu masalah.
Selalu berkomunikasi dan menjaga keintiman
Komunikasi menjadi kunci penting bagi keharmonisan hubungan. Karenanya meski masalah sedang mendera, tak ada salahnya saling menautkan keintiman, misalnya dengan memeluknya atau memegang tangannya. Cara tersebut dapat meredakan stres dan membantu ikatan cinta tetap terjaga pendarnya. Jika tak sempat melakukan sentuhan fisik, mengirim pesan yang menunjukkan betapa perhatiannya Anda dan bagaimanaAnda selalu memikirkannya dapat menjadi peredam stres sekaligus meningkatkan keintiman Anda berdua.
Empat Trik Hentikan Kebiasaan Buruk Anak
MENGHENTIKAN kebiasaan buruk anak tidak semudah bicara lalu akan ia patuhi. Anak juga harus diajak berdiskusi tentang alasannya dilarang melakukan kebiasaan yang dinilai buruk oleh orangtua.
Simak beberapa kiat untuk menghentikan kebiasaan buruk anak, berikut ini:
Cari sebabnya
Yang pertama harus Anda lakukanadalah bertanya padanya, apa yang membuat dia gelisah. Biasanya respon awal kita bila anak melakukan sesuatu yang mengkhawatirkan adalah mencobamenghentikan kebiasaannya.
Ajak diskusi
Ajak anak untuk membicarakan cara menghentikan suatu kebiasaan buruk. Anda dapat memulai pembicaraan mengenai apa yang dimaksud dengan nervous habit dan bagaimana menghentikannya. Lalu tentukan sejauh mana keterlibatan Anda.
Bantu menyadari kebiasaannya
Dukung anak untuk menjadi lebih sadar soal kebiasaan buruk yang sering dilakukannya. Buat persetujuan bersama bagaimana cara Anda mengingatkannya, terutama bila di depan umum. Entah dengan menggunakan bahasa tubuh tertentu atau kodekata-kata yang sudah Anda sepakati bersama anak.
Tawarkan alternatif
Beri saran agar ia mengganti kebiasaannya dengan satu atau dua kegiatan lalu minta dia mempraktekkan kebiasaan alternatif tersebut dalam beberapa menit sebelum masuk kelas atau sebelum tidur di malamhari. Anda dapat menambahkan beberapa teknik relaksasi yang dapat dicobanya bila dia merasa sangat ingin menggigit.
Simak beberapa kiat untuk menghentikan kebiasaan buruk anak, berikut ini:
Cari sebabnya
Yang pertama harus Anda lakukanadalah bertanya padanya, apa yang membuat dia gelisah. Biasanya respon awal kita bila anak melakukan sesuatu yang mengkhawatirkan adalah mencobamenghentikan kebiasaannya.
Ajak diskusi
Ajak anak untuk membicarakan cara menghentikan suatu kebiasaan buruk. Anda dapat memulai pembicaraan mengenai apa yang dimaksud dengan nervous habit dan bagaimana menghentikannya. Lalu tentukan sejauh mana keterlibatan Anda.
Bantu menyadari kebiasaannya
Dukung anak untuk menjadi lebih sadar soal kebiasaan buruk yang sering dilakukannya. Buat persetujuan bersama bagaimana cara Anda mengingatkannya, terutama bila di depan umum. Entah dengan menggunakan bahasa tubuh tertentu atau kodekata-kata yang sudah Anda sepakati bersama anak.
Tawarkan alternatif
Beri saran agar ia mengganti kebiasaannya dengan satu atau dua kegiatan lalu minta dia mempraktekkan kebiasaan alternatif tersebut dalam beberapa menit sebelum masuk kelas atau sebelum tidur di malamhari. Anda dapat menambahkan beberapa teknik relaksasi yang dapat dicobanya bila dia merasa sangat ingin menggigit.
Jumat, 21 Oktober 2011
7 Rumus Pilih Progam Televisi untuk Buah Hati
BINGUNG memilih tayangan televisi yang tepat untuk si kecil? Beberapa rumus ini dapatmembantu Anda dalam menangani permasalahan tersebut.
Meskipun program televisi yang ada saat ini sangat beragam dan banyak yang dikhususkan untuk anak-anak, sebaiknya jangan sepenuhnya memercayaihal tersebut. Sebagai orangtua,Anda pun perlu tetap waspada dalam memilih tayangan yang dapat dinikmati buah hati. Pasalnya, ancaman kekerasan dan pornografi kerap mengintai di sela-sela program acara jika Anda tidak cermat menyimaknya.
Untuk meminimalisir hal tersebut,memberikan pendampingan terhadap buah hati ketika mereka menonton televisi menjadi kuncinya. Selain itu, beberapa hal mendasar pun perlu dilakukan para orangtua. Psikolog anak Vera Itabiliana dalam acara “Coaching Clinic” dengan tema “Memanfaatkan Program TV Untuk Kegiatan Home Schooling” di The Metropolitan Theater of KidZania, Pacific Place Mall, Jakarta, memberikan beberapa rumus bagi orangtua agar dapat menjadikan televisi sebagai sahabat anak.
Tujuh rumus tersebut di antaranya, penempatan televisi.Pada poin ini orangtua diharapkan tidak memberikan televisi di kamar anak, tetapi di ruang keluarga agar Anda bisa memantau apa yang ditonton mereka. Kedua, batasi waktunya. Sebagai orangtua, jangan membiarkan anak terlalulama menonton televisi agar tidak menimbulkan efek negatif baik pada pertumbuhan buah hati, serta konsentrasi belajarnya. Ketiga, dampingi anak. Sesibuk apapun Anda, sebaiknya dampingi selalu buah hati saat menonton televisi sehingga ketika mereka bertanya tentang program yangditayangkan, Anda dapat langsung menjelaskan.
Keempat seleksi memilih programacara. Penyeleksian acara sangat penting karena memengaruhi tumbuh kembang serta perilaku mereka ke depan.Kelima, seleksi perannya sehingga anak-anak memiliki pengetahuan yang kaya dan tidak monoton. Keenam, berikan alternatif kegiatan lain. Jika menonton televisi dilakukan terus-menerus bukan tidak mungkin anak akan merasa jenuh. Anda dapat menyiasatinya dengan bermain bola atau puzzle . Ketujuh, beri contoh. Sebagai orangtua Anda perlu memberikan contoh yang baik. Misalnya, ketika pulang kerja jangan langsung duduk disofa dan menyetel televisi. Anak-anak akan mengamati kebiasaan tersebut dan bukan tidak mungkin pada akhirnya akan meniru kebiasaan Anda.
Meskipun program televisi yang ada saat ini sangat beragam dan banyak yang dikhususkan untuk anak-anak, sebaiknya jangan sepenuhnya memercayaihal tersebut. Sebagai orangtua,Anda pun perlu tetap waspada dalam memilih tayangan yang dapat dinikmati buah hati. Pasalnya, ancaman kekerasan dan pornografi kerap mengintai di sela-sela program acara jika Anda tidak cermat menyimaknya.
Untuk meminimalisir hal tersebut,memberikan pendampingan terhadap buah hati ketika mereka menonton televisi menjadi kuncinya. Selain itu, beberapa hal mendasar pun perlu dilakukan para orangtua. Psikolog anak Vera Itabiliana dalam acara “Coaching Clinic” dengan tema “Memanfaatkan Program TV Untuk Kegiatan Home Schooling” di The Metropolitan Theater of KidZania, Pacific Place Mall, Jakarta, memberikan beberapa rumus bagi orangtua agar dapat menjadikan televisi sebagai sahabat anak.
Tujuh rumus tersebut di antaranya, penempatan televisi.Pada poin ini orangtua diharapkan tidak memberikan televisi di kamar anak, tetapi di ruang keluarga agar Anda bisa memantau apa yang ditonton mereka. Kedua, batasi waktunya. Sebagai orangtua, jangan membiarkan anak terlalulama menonton televisi agar tidak menimbulkan efek negatif baik pada pertumbuhan buah hati, serta konsentrasi belajarnya. Ketiga, dampingi anak. Sesibuk apapun Anda, sebaiknya dampingi selalu buah hati saat menonton televisi sehingga ketika mereka bertanya tentang program yangditayangkan, Anda dapat langsung menjelaskan.
Keempat seleksi memilih programacara. Penyeleksian acara sangat penting karena memengaruhi tumbuh kembang serta perilaku mereka ke depan.Kelima, seleksi perannya sehingga anak-anak memiliki pengetahuan yang kaya dan tidak monoton. Keenam, berikan alternatif kegiatan lain. Jika menonton televisi dilakukan terus-menerus bukan tidak mungkin anak akan merasa jenuh. Anda dapat menyiasatinya dengan bermain bola atau puzzle . Ketujuh, beri contoh. Sebagai orangtua Anda perlu memberikan contoh yang baik. Misalnya, ketika pulang kerja jangan langsung duduk disofa dan menyetel televisi. Anak-anak akan mengamati kebiasaan tersebut dan bukan tidak mungkin pada akhirnya akan meniru kebiasaan Anda.
Sudah Punya Cucu, Masih Mau Jalani KB
PELAYANAN KB yang dilaksanakan di Tanjung Batu, Belitung, menggunakan KRI dr. Soeharso 99 oleh BKKBN dan TNImenarik minat masyarakat Belitung. Terbukti, dua orang nenek melakukannya.
Terlihat antusiasme masyarakatyang mendatangi dermaga Tanjung Batu meski jarak dari rumah mereka sangat jauh. Seperti halnya dua orang peserta KB dari Tanjung Pandan, Yulia (45) dan Siti Mariani (39). Keduanya mengaku sudah mendapatkan izin dari suami untuk melakukan MOW atau tubektomi.
Jarak antara Tanjung Pandan menuju Tanjung Batu menempuhperjalanan sekira 45 menit menggunakan kendaraan roda empat. Sulitnya transportasi ini merupakan salah satu kendala yang dialami peserta.
Beruntung, pihak BKKBN melakukan sistem ”jemput bola”. Para peserta KB dijemput dari daerahnya masing–masing menggunakan kendaraan ambulan.
Yulia, warga Tanjung Pandan dijemput menggunakan ambulanbersama Siti, keduanya merupakan tetangga yang barukali ini melakukan WOM. Ketika ditanya mengapa baru melakukan tubektomi, Yulia yangmerupakan nenek satu cucu ini mengatakan, selama ini suaminya tidak mengizinkannya melakukan KB karena takut.
”Saya baru dapat izin dari suami untuk KB, itupun setelah saya melahirkan bayi kembar. Dia sudah tidak mau punya anak lagi,” ujar ibu beranak enam ini, saat menunggu operasi tubektomi.
Lain halnya dengan Siti, ibu beranak lima ini baru berminat ikut KB hanya karena ajakan temannya, Yulia. Dia mengaku selama ini enggan ber-KB karena memang sang suami tidak menyuruhnya.
Pantauan okezone di lokasi terlihat para ibu menunggu di selasar atau lorong dek kapal. Usia 10 peserta WOM berkisar 39-45 tahun, dengan jumlah anak rata-rata 3-6 anak.
Terlihat antusiasme masyarakatyang mendatangi dermaga Tanjung Batu meski jarak dari rumah mereka sangat jauh. Seperti halnya dua orang peserta KB dari Tanjung Pandan, Yulia (45) dan Siti Mariani (39). Keduanya mengaku sudah mendapatkan izin dari suami untuk melakukan MOW atau tubektomi.
Jarak antara Tanjung Pandan menuju Tanjung Batu menempuhperjalanan sekira 45 menit menggunakan kendaraan roda empat. Sulitnya transportasi ini merupakan salah satu kendala yang dialami peserta.
Beruntung, pihak BKKBN melakukan sistem ”jemput bola”. Para peserta KB dijemput dari daerahnya masing–masing menggunakan kendaraan ambulan.
Yulia, warga Tanjung Pandan dijemput menggunakan ambulanbersama Siti, keduanya merupakan tetangga yang barukali ini melakukan WOM. Ketika ditanya mengapa baru melakukan tubektomi, Yulia yangmerupakan nenek satu cucu ini mengatakan, selama ini suaminya tidak mengizinkannya melakukan KB karena takut.
”Saya baru dapat izin dari suami untuk KB, itupun setelah saya melahirkan bayi kembar. Dia sudah tidak mau punya anak lagi,” ujar ibu beranak enam ini, saat menunggu operasi tubektomi.
Lain halnya dengan Siti, ibu beranak lima ini baru berminat ikut KB hanya karena ajakan temannya, Yulia. Dia mengaku selama ini enggan ber-KB karena memang sang suami tidak menyuruhnya.
Pantauan okezone di lokasi terlihat para ibu menunggu di selasar atau lorong dek kapal. Usia 10 peserta WOM berkisar 39-45 tahun, dengan jumlah anak rata-rata 3-6 anak.
Sudah Punya Cucu, Masih Mau Jalani KB
PELAYANAN KB yang dilaksanakan di Tanjung Batu, Belitung, menggunakan KRI dr. Soeharso 99 oleh BKKBN dan TNImenarik minat masyarakat Belitung. Terbukti, dua orang nenek melakukannya.
Terlihat antusiasme masyarakatyang mendatangi dermaga Tanjung Batu meski jarak dari rumah mereka sangat jauh. Seperti halnya dua orang peserta KB dari Tanjung Pandan, Yulia (45) dan Siti Mariani (39). Keduanya mengaku sudah mendapatkan izin dari suami untuk melakukan MOW atau tubektomi.
Jarak antara Tanjung Pandan menuju Tanjung Batu menempuhperjalanan sekira 45 menit menggunakan kendaraan roda empat. Sulitnya transportasi ini merupakan salah satu kendala yang dialami peserta.
Beruntung, pihak BKKBN melakukan sistem ”jemput bola”. Para peserta KB dijemput dari daerahnya masing–masing menggunakan kendaraan ambulan.
Yulia, warga Tanjung Pandan dijemput menggunakan ambulanbersama Siti, keduanya merupakan tetangga yang barukali ini melakukan WOM. Ketika ditanya mengapa baru melakukan tubektomi, Yulia yangmerupakan nenek satu cucu ini mengatakan, selama ini suaminya tidak mengizinkannya melakukan KB karena takut.
”Saya baru dapat izin dari suami untuk KB, itupun setelah saya melahirkan bayi kembar. Dia sudah tidak mau punya anak lagi,” ujar ibu beranak enam ini, saat menunggu operasi tubektomi.
Lain halnya dengan Siti, ibu beranak lima ini baru berminat ikut KB hanya karena ajakan temannya, Yulia. Dia mengaku selama ini enggan ber-KB karena memang sang suami tidak menyuruhnya.
Pantauan okezone di lokasi terlihat para ibu menunggu di selasar atau lorong dek kapal. Usia 10 peserta WOM berkisar 39-45 tahun, dengan jumlah anak rata-rata 3-6 anak.
Terlihat antusiasme masyarakatyang mendatangi dermaga Tanjung Batu meski jarak dari rumah mereka sangat jauh. Seperti halnya dua orang peserta KB dari Tanjung Pandan, Yulia (45) dan Siti Mariani (39). Keduanya mengaku sudah mendapatkan izin dari suami untuk melakukan MOW atau tubektomi.
Jarak antara Tanjung Pandan menuju Tanjung Batu menempuhperjalanan sekira 45 menit menggunakan kendaraan roda empat. Sulitnya transportasi ini merupakan salah satu kendala yang dialami peserta.
Beruntung, pihak BKKBN melakukan sistem ”jemput bola”. Para peserta KB dijemput dari daerahnya masing–masing menggunakan kendaraan ambulan.
Yulia, warga Tanjung Pandan dijemput menggunakan ambulanbersama Siti, keduanya merupakan tetangga yang barukali ini melakukan WOM. Ketika ditanya mengapa baru melakukan tubektomi, Yulia yangmerupakan nenek satu cucu ini mengatakan, selama ini suaminya tidak mengizinkannya melakukan KB karena takut.
”Saya baru dapat izin dari suami untuk KB, itupun setelah saya melahirkan bayi kembar. Dia sudah tidak mau punya anak lagi,” ujar ibu beranak enam ini, saat menunggu operasi tubektomi.
Lain halnya dengan Siti, ibu beranak lima ini baru berminat ikut KB hanya karena ajakan temannya, Yulia. Dia mengaku selama ini enggan ber-KB karena memang sang suami tidak menyuruhnya.
Pantauan okezone di lokasi terlihat para ibu menunggu di selasar atau lorong dek kapal. Usia 10 peserta WOM berkisar 39-45 tahun, dengan jumlah anak rata-rata 3-6 anak.
Langganan:
Postingan (Atom)